<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680</id><updated>2011-07-05T18:43:19.158+07:00</updated><category term='pancingan'/><category term='grafis'/><category term='obrolan'/><category term='redaksi'/><category term='karya anggota'/><title type='text'>Labs83 Menulis</title><subtitle type='html'>pengalaman, gagasan, pikiran, kegelisahan, sekedar obrolan ringan alumni Labschool 83</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-3207187855361689466</id><published>2008-08-14T05:45:00.000+07:00</published><updated>2008-08-14T10:13:10.323+07:00</updated><title type='text'>Fixing the Hole - Mulai Dari Mana?</title><content type='html'>Awicaks&lt;br&gt;&lt;br&gt;Di depan mata terhampar bentangan luas lahan kosong. Seperti tak berujung, dan rasanya matahari di atas kepala ada tiga. Panas luar biasa. Suhu panas juga disebabkan proses pengeringan gambut yang melepaskan jutaan ton karbondioksida (CO2). Sudah dua jam perjalanan, dan sepertinya tidak berujung.&lt;br&gt;&lt;br&gt;"Dulu di sini adalah hamparan hutan. Dalam waktu kurang dari setahun hutan di sini dibersihkan, karena perusahaan sudah dapat HGU (Hak Guna Usaha) untuk memulai membangun kebun kelapa sawit." Ujar kawan yang menemani saya. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Itu perjalanan sebulan lalu di salah satu kawasan kaya karbon di Riau. Dan pemandangan yang saya lihat tadi hanya puncak dari gunung es. Riau adalah wilayah yang sudah luluh lantak oleh perkebunan besar tidak hanya akhir-akhir ini, bahkan sudah sejak abad ke-18, padsa masa pendudukan Belanda. Yang mengenaskan, keadaan dan modus operandi yang ada sekarang tidak berbeda dengan yang dilakukan pada masa pendudukan Belanda itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sejalan dengan agresifitas pertumbuhan modal-modal besar, seluruh operasi yang "memakan" hutan pun berlangsung semakin efektif dan harus efisien. Atas nama batas-laba (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;profit margin&lt;/span&gt;) metoda pembukaan hutan dan penyiapan lahan paling murah pun dipilih: Membakar sisa-sisa hutan yang ditebang.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tahun 1997 Riau merupakan salah satu wilayah yang paling mengenaskan dilanda bencana asap. Ratusan anak-anak menderita infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA). Sarwono Kusumaatmadja, yang saat itu menjabat Menteri Lingkungan Hidup, tergerak untuk melakukan kerja-kerja di luar batas kewenangannya. Ia begitu tak sabar melihat ketidakpedulian kantor negara yang mestinya bertanggung jawab, seperti Departemen Kehutanan dan pemerintah daerah setempat. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Kebakaran lahan hutan tahun 1997 memang bukan yang terbesar, ada pula kebakaran tahun 1982 yang tak kalah hebat, dan sama-sama dibarengi dengan masa gelombang panas (El Nino). Akibatnya derita warga bertumpuk. Sudah terkena bencana asap, lalu mengalami pula kekeringan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Di media massa para pejabat tak malu-malu menuding masyarakat sebagai penyulut kebakaran. "Mereka miskin, tak punya pilihan selain membakar hutan demi hidup." Sebuah ungkapan paling tolol yang pernah saya dengar. Sudut pandang sepihak dengan sikap lepas tanggung jawab merupakan ciri khas paling menonjol dari pejabat publik di negara ini.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kebakaran 1997 yang melanda Sumatra dan Kalimantan itu menjadi penanda dari ambruknya rejim korup Orde Baru. Tak lama, setelah diselenggarakan pemilihan umum a la Orde Baru yang kembali mengantarkan Suharto menjadi presiden untuk kesekian kalinya, Sarwono pun tak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tergusur&lt;/span&gt; dari jajaran elit Orde Baru. Yang menarik, itulah awal dari runtuhnya kepongahan Orde Baru Suharto.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Setelah Orde Baru tumbang, pada masa reformasi, kebakaran hutan menjadi prioritas penting rejim berikutnya. Namun, alih-alih menyelesaikan krisis, kebakaran hutan justru menjadi kerangka acuan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terms of Reference&lt;/span&gt;, ToR) baru pengembangan proyek-proyek milyaran rupiah, baik yang berasal dari bantuan (tak gratis) negara-negara maju maupun proyek utang luar negeri. Ini memang ciri negeri amburadul ini. Krisis dipecahkan lewat proyek. Krisis tak selesai, pengelola proyek makin kaya!&lt;br&gt;&lt;br&gt;Yang jelas bencana asap menjadi pemicu ucapan permintaan maaf setiap presiden yang berkuasa sejak Suharto kepada negara-negara tetangga, terutama Malaysia dan Singapura. ASEAN pun tergerak merumuskan sebuah perjanjian kerjasama penangangan bencana asap. Selesaikah krisis? Lagi-lagi ia hanya melahirkan proyek-proyek baru....&lt;br&gt;&lt;br&gt;"Harusnya pemerintah Malaysia minta maaf kepada kita karena tak mampu mengontrol para pemodal mereka yang berinvestasi di perkebunan kelapa sawit di Sumatra dan Kalimantan," ujar seorang pejabat publik dari Departemen Kehutanan pada masa kepresidenan Megawati. Buruk rupa cermin dibelah!&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mungkin mudah bagi saya menulis, utamakan keselamatan warga dalam kebijakan-kebijakan publik! Tetapi dengan carut-marut struktur dan karakter pengurusan negara macam begini, ktia mesti mulai dari mana? Tanpa pemimpin-pemimpin bernyali, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nothing to lose&lt;/span&gt;, warga Indonesia tak mungkin keluar dari lingkaran setan krisis. Percayalah!&lt;br&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-3207187855361689466?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/3207187855361689466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=3207187855361689466' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/3207187855361689466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/3207187855361689466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2008/08/fixing-hole-mulai-dari-mana.html' title='Fixing the Hole - Mulai Dari Mana?'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-8043395277521768007</id><published>2008-06-02T04:51:00.000+07:00</published><updated>2008-06-02T09:30:04.200+07:00</updated><title type='text'>Nggole' Ambegan - Take A Break</title><content type='html'>Bahasa Jawa-nya, 'nggole' ambegan' atau tarik nafas sebentar. Ya, saya memutuskan untuk istirahat seminggu dari segala hiruk-pikuk pekerjaan yang telah mengocok adrenalin sejak awal Maret. Selama seminggu ini saya berencana menyelesaikan banyak hal yang selama ini terutang terhadap keluarga. Termasuk diantaranya melanjutkan naskah yang sejak 2002 saya tulis tetapi sulit untuk dipaksa menjadi naskah-akhir (&lt;span style="font-style: italic; "&gt;final draft&lt;/span&gt;). &lt;br&gt;&lt;br&gt;Dalam perjalanan Bangkok - Jakarta, yang cuma tiga jam itu, saya merenungkan banyak hal. Rasanya apa yang saya kerjakan tidak akan pernah ada habisnya, merujuk kepada keruwetan situasi negeri ini. Saat Konferensi TBLI Asia 2008 di Bangkok saya berkesempatan berkenalan dengan beberapa pelaku investasi dan industri serta perbankan dari berbagai negara, termasuk dari negeri sendiri. Saya berusaha keras memahami suasana batin dan jalan pikiran mereka lewat empati. Terus terang saya, yang tumbuh dan menimba banyak pengalaman hidup di lingkungan aktivisme serta riset-riset ekologi dan sumberdaya alam, sangat awam dengan kalangan usaha dan investasi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Seorang konsultan investasi asal Amerika Serikat yang telah hidup di Bangkok selama lebih dari duapuluh tahun adalah salah seorang yang selama tiga hari berbincang intensif dengan saya. Dia mengaku menjadi pendukung organisasi saya sejak limabelas tahun lalu. Dan kerja-kerja kampanye organisasi saya senantiasa menjadi sumber inspirasi kerja-kerja profesionalnya dengan beragam klien. &lt;br&gt;&lt;br&gt;"&lt;span style="font-style: italic; "&gt;It's not easy to accept your confrontational message, but it always good as my wake-up call, since the border line between good and bad in investment world is as thin as a silk sheet&lt;/span&gt;," Ungkapnya terus terang. Ia telah malang melintang di dunia investasi tidak hanya di Thailand, tetapi juga Indonesia, Filipina, Singapura dan Malaysia. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Tentu saja hal itu menggelitik rasa ingin tahu saya, terutama terkait dengan krisis moneter 1997, yang telah meluluhlantakkan dan merombak bentang serta landasan ekonomi dan ekonomi-politik regional. Pertanyaan bodoh pada situasi ini seringkali ampuh untuk membuat orang sekaliber dia menjawab dengan dimensi yang lengkap. "&lt;span style="font-style: italic; "&gt;So, what were you and where were you during the monetary crash of 1997 in the region then&lt;/span&gt;?"&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tanpa tedeng aling-aling dia bercerita tentang kelompok orang yang menangguk laba luarbiasa besar ketika terjadi krisis moneter tersebut. "&lt;span style="font-style: italic; "&gt;That was a bonanza of the financial business&lt;/span&gt;," Ujarnya. Dia paham bahwa gelimang tersebut menjadi biaya bagi ratusan juta warga tak berwajah dan tak bernama yang hidup di Indonesia, Filipina dan Thailand ketika itu. "&lt;span style="font-style: italic; "&gt;But, at least you got a phenomenal change in the political landscape of your country, didn't you&lt;/span&gt;?"&lt;br&gt;&lt;br&gt;Yang saya suka berbincang dengannya adalah, sikapnya yang tidak menjilat. Dia tak perlu berpura-pura simpati dengan krisis yang dialami Indonesia, dan mengatakan terus terang bahwa dia memperoleh laba besar dari situasi tersebut. Tidak perlu jauh-jauh, ada banyak warga kelas menengah di kota-kota besar yang menangguk laba besar pula ketika kebanyakan warga harus pontang-panting memperoleh sembilan-bahan-pokok (sembako), atau warga yang kehilangan pekerjaan ketika perusahaan-perusahaan harus gulung tikar tak kuat menanggung beban akibat merosotnya nilai Rupiah terhadap Dollar AS. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Namun pelajaran penting yang saya peroleh dari berbincang dengnnya, juga dengan beberapa orang lain dari India, Cina, Jepang dan seorang petualang investasi asal Inggris yang tinggal lama di Hong Kong, ajaran ekonomi neo-klasik berikut semua turunannya memang sudah menjadi agama dunia. Turunannya yang dilihat para aktivis sosil, politik dan lingkungan sebagai instrumen kejam yang hanya peduli pada laju pertumbuhan dengan mengorbankan distribusi memang kenyataannya sudah dianggap sebagai hal lazim (&lt;span style="font-style: italic; "&gt;taken for granted&lt;/span&gt;). Orang itu mengakui bahwa dia pun memiliki keprihatinan serupa, tetapi dia tidak punya keberanian untuk menjadi seorang martir, mengorbankan keluarganya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya senantiasa tidak merasa pada posisi menilai sikap itu benar atau salah, tetapi kejujurannya membuat saya merenung panjang. Yang sering mengganggu saya adalah orang-orang seperti dia yang hipokrit dan melakukan penipuan massif lewat aksi-aksi filantropik mereka. Ketika hal tersebut saya ungkap, dia setuju.&lt;br&gt;&lt;br&gt;"&lt;span style="font-style: italic; "&gt;There always a lie behind philanthropic act. I don't buy-in to what-so-called corporate social responsibility, since it against, not only to social justice, but to the very nature of us being a business community&lt;/span&gt;." &lt;br&gt;&lt;br&gt;Rujukan yang selama ini saya baca memang menunjukkan hal tersebut. Namun ini pertama kali bagi saya mendengar langsung dari pelaku. Dan ketika kami &lt;span style="font-style: italic; "&gt;kongkow&lt;/span&gt; di sebuah pub dengan beberapa peserta dan pembicara lain, hal itu saya lontarkan. Meledaklah diskusi dan debat hangat sepanjang malam hingga menjelang pukul dua pagi. Pro dan kontra di kalangan mereka sendiri agaknya terwakili dari perdebatan malam itu. Saya sengaja meletakkan posisi sebagai seorang fasilitator yang netral. Saya menugasi diri saya untuk melontarkan petanyaan-pertanyaan kritis kepada kelompok itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Terus terang pengalaman singkat itu berpengaruh besar kepada saya. Saya memutuskan untuk beristirahat sebentar, dan berharap kembali ke organisasi dengan gagasan yang lebih segar serta berimbang. Saya merasa harus ada gebrakan di internal organisasi untuk mendorong kerja-kerja kampanye yang lebih jitu dan progresif dengan jangkauan pemahaman yang lebih luas...&lt;br&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-8043395277521768007?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/8043395277521768007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=8043395277521768007' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/8043395277521768007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/8043395277521768007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2008/06/nggole-ambegan-take-break.html' title='Nggole&amp;#39; Ambegan - Take A Break'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-2031383849878160991</id><published>2008-05-17T21:16:00.000+07:00</published><updated>2008-05-18T01:42:56.938+07:00</updated><title type='text'>Pemilu Sembilan Bulan? Sinting!</title><content type='html'>Saya baru tersadar ketika tahu bahwa masa kampanye pemilihan umum tahun depan bisa memakan waktu sembilan bulan. Saya cuma geleng-geleng kepala. Apa isi kepala orang-orang sekolahan yang disewa untuk merumuskan peraturan perundangan ini? Kalau isi kepala para politikus sih saya sama sekali tidak tertarik untuk tahu, karena sudah terbaca dari perilaku dan biaya kelakuan mereka.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Coba mari telusuri berita-berita media sepanjang dua tahun terakhir. Mari perhatian kita pusatkan ke konflik-konflik yang timbul karena pemilihan kepala daerah (pilkada). Bentrokan antarmassa pendukung jelas tak terhindarkan, belum lagi ketidakpastian hukum karena pasti pihak yang tak terima atas kekalahan mereka akan mondar-mandir ke lembaga peradilan, entah itu Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. Tambal sulam dan bengkel bongkar pasang jelas tak terhindarkan. Belum pula dihitung perdebatan-perdebatan di media massa diantara orang-orang sekolahan yang menjadi pengamat politik, serta para pelaku politik itu sendiri. Apalagi jika kita sudah bicara soal biaya. Baik biaya resmi maupun biaya-biaya silumannya. Dimana otak orang-orang itu?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Rasanya potret derita warga yang tak henti-hentinya diwartakan media massa tak mampu menyentuh syaraf dan sel-sel kelabu otak mereka. Ini negara mau dibawa kemana? Sudah porak poranda ekonominya, korup orang-orangnya, lah kok masih mau bermain-main dengan eksperimen politik yang lama, mahal (baik biaya moneter maupun biaya sosial dan politik). Saya pun bingung, kok tidak ada aktivis organiasi masyarakat sipil yang protes. Jangan-jangan mereka pun tergiur untuk ikut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cawe-cawe&lt;/span&gt; di eksperimen paling gila ini?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Benar-benar edan!&lt;br&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-2031383849878160991?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/2031383849878160991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=2031383849878160991' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/2031383849878160991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/2031383849878160991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2008/05/pemilu-sembilan-bulan-sinting.html' title='Pemilu Sembilan Bulan? Sinting!'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-2402961367215675783</id><published>2008-05-12T18:58:00.000+07:00</published><updated>2008-05-16T02:56:21.508+07:00</updated><title type='text'>Berkunjung ke the Corner House</title><content type='html'> &lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="/photos/hi-res/upload/SCyUpAoKCC4AABsk4Eg1"&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://images.awicaks.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SCyUpAoKCC4AABsk4Eg1/DSC00285.JPG?et=KwGpcH%2BPAlu3Ym%2BBhNxTvw&amp;nmid=" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Larry Lohmann dan Nick Hildyard kelihatan begitu bersemangat ketika mereka muncul di gerbang Stasiun Kereta Api Gillingham, Dorset, Jumat sore lalu. Saya yang masih kelelahan setelah pertemuan marathon di kantor Unilever di London, dilanjutkan dengan konsolidasi di kantor Greenpeace Inggris, kemudian lanjut dengan perjalanan kereta api dua jam hingga tiba di Gillingham, hanya bisa menyambut rangkulan hangat keduanya. Dengan Larry saya masih lumayan sering bertemu dibanding Nick. Terakhir kami sama-sama hadir dan aktif di lokakarya Durban Group beberapa hari sebelum Konferensi Perubahan Iklim di Bali dimulai, Desember 2007. Sedangkan Nick, terakhir saya bersama-sama dengan dia kira-kira tahun 2001, di Canada. Dan kunjungan ke kantor mereka, &lt;a href="http://www.thecornerhouse.org.uk/"&gt;the Corner House&lt;/a&gt;, adalah yang pertama buat saya. Masih setengah jam lagi untuk mencapai kantor the Corner House yang melegenda itu di &lt;a href="http://www.britinfo.net/index_Sturminster_Newton.htm"&gt;Sturminster Newton, Dorset&lt;/a&gt;, dari Stasiun Kereta Api Gillingham. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Kami menyempatkan kongkow di sebuah kedai minum pedesaan, di pinggiran kota Sturminster Newton. Udaranya sejuk, meski sinar matahari cukup menyengat sore itu. Tak lama setelah mendapat meja, yang pertama kali saya lakukan adalah memberi Nick rokok Ji-Sam-Soe, yang ia pesan lewat email. Bahagia sekali dia. Kami duduk di bagian belakang cafe, yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;smoking patio&lt;/span&gt;. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Larry bercerita tentang roadshow buku terakhirnya, &lt;a href="http://www.thecornerhouse.org.uk/summary.shtml?x=544225"&gt;Carbon Trading - Critical Conversation&lt;/a&gt;, selama dua bulan di sepanjang Amerika Utara, yang berakhir Februari lalu. Sementara berkisah tentang kemenangan &lt;a href="http://www.thecornerhouse.org.uk/pdf/document/CHsumJRjudgment.pdf"&gt;kasus&lt;/a&gt; mereka melawan Pemerintah Inggris, terkait korupsi dalam perjanjian perdagangan senjata antara BAE System dengan Saudi Arabia. Meski itu adalah kemenangan besar buat the Corner House dan publik Inggris, tindak lanjut proses hukum oleh Pemerintah Inggris dinilai Nick dan Larry penuh dengan muslihat. Terkejut juga saya mendengarnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kok&lt;/span&gt; seperti di Indonesia ya?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Larry Lohmann adalah salah seorang pemikir dan penulis yang produktif yang tak lelah membuka mata para akademisi, aktivis serta para internasionalis tentang ketidakadilan global yang semakin hari semakin membahayakan. Hal yang paling dikhawatirkan Larry adalah, proses pembalikan alami, dimana di masa lalu bangsa Eropa begitu agresif menjajah dunia ketiga, di Asia, Afrika dan Pasifik, kini gelombang bangsa Asia, Afrika dan Pasifik ke negara-negara Eropa menjadi semacam karma. Yang jadi persoalan, gelombang aliran populasi itu tak pelak menimbulkan ketegangan sosial, yang membuat rasisme menjadi semakin nyata. Di sela ngobrol di kedai kopi di seberang the Corner House, saya menanyakan, apakah dia sadar bahwa tempat dia tinggal ternyata semuanya kulit putih. Sehingga saya sering kagok ketika memasuki tempat-tempat publik diikuti pandangan mata heran orang-orang di sekitar. Larry hanya tersenyum simpul.&lt;br&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-2402961367215675783?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/2402961367215675783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=2402961367215675783' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/2402961367215675783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/2402961367215675783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2008/05/berkunjung-ke-corner-house.html' title='Berkunjung ke the Corner House'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-6149839271662542938</id><published>2008-04-02T15:38:00.000+07:00</published><updated>2008-04-02T19:40:19.227+07:00</updated><title type='text'>Finally, A Home For Smokers</title><content type='html'>A bit annoying title I supposed, particularly for those, the hypocrites who publicly running a show of how they are defending the mother earth, and be superficially patriot of the environment, but vaguely put their position between workers for organizations and the activist ones. That's basically my concern. Employee versus activist....&lt;br&gt;&lt;div class="note_content clearfix"&gt;&lt;div&gt; &lt;br&gt; So then a friend questioned my commitment. "For more than fifteen years you work for the environmental issue, how then you survive with your smoking habits? If you committed to the environment, you firstly should give up your bad habit!" Aside from semantic debate of that question, I won't be indifferent to that question and questions perhaps often raised by evangelists or Islamic hardliners. "If you do this, so you can't do that. And if you're that, so you can't do this," type of dogmatic statement and/or question.&lt;br&gt; &lt;br&gt; I'd rather to counter the question by putting first the thorough atmosphere of our middle-class paradigm, particularly the raising new intellectual and critical urban and well informed group of young people, in the reality of an understanding of life's material progress and happiness. A new Nokia's PDA, a new gadget, a new software, a new elegant buzzword and terminology, a new indicator of advancement, a new social status, etc.. But, what's all about? Selfishness and strong desire for a acknowledgement and recognition!&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=523871&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=10598069314&amp;aid=-1&amp;oid=10598069314&amp;id=743636984"&gt;&lt;img src="http://photos-984.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v196/31/78/743636984/a743636984_523871_5256.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt; I remember a paragraph from Graham Hancock's Lords of Poverty. I interpret that as "industrialized countries' originated development workers will put tenun-ikat and batik's ornament on wall of their house or apartment to show that they're belong to a new class of global societies of the development." They perhaps did noble activities down there in Uganda or Boznia or Tanzania or East Timor or Indonesia or else, whether on voluntary basis or as highly paid trainers or consultants hired by the development consulting agents under of what-so-called global development assistances' scheme. And perhaps they don't have bad intention and simply want to show off their particular, and far from the grandeur's strategy of global control over production and consumption imposed by complicated web of capital and power commonly represented by anything thing of multinationals, internationals, transnational, global, etc.. &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;blockquote&gt;Excuse me, friends, I must catch my jet-&lt;br&gt; I'm off to join the Development Set;&lt;br&gt; My bags are packed, and I've had all my shots,&lt;br&gt; I have travelers' checks, and pi;;s for the trots&lt;br&gt; &lt;br&gt; The Development Set is bright and noble,&lt;br&gt; Our thoughts are deep and our vision global;&lt;br&gt; Although we move with the better classes,&lt;br&gt; Our thoughts are always with the masses.&lt;br&gt; &lt;br&gt; In Sheraton hotels in scattered nations,&lt;br&gt; We damn multinational corporations;&lt;br&gt; Injustice seems so easy to protest,&lt;br&gt; In such seething hotbeds of social rest.&lt;br&gt; &lt;br&gt; We discuss malnutrition over steaks&lt;br&gt; And plan hunger talks during coffee breaks.&lt;br&gt; Whether Asian floods or African drought,&lt;br&gt; We face each issue with an open mouth.&lt;br&gt; &lt;br&gt; We bring in consultants whose circumlocution&lt;br&gt; Raises difficulties for every solution-&lt;br&gt; Thus guaranteeing continued good eating&lt;br&gt; By showing the need for another meeting.&lt;br&gt; &lt;br&gt; The language of the Development Set&lt;br&gt; Stretches the English alphabet;&lt;br&gt; We use swell eords like 'epigenetic',&lt;br&gt; 'Micro', 'Macro'. and 'logarithmetic'.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Development Set homes are extremely chic,&lt;br&gt; Full of carvings, curios and draped with batik.&lt;br&gt; Eye-level photographs subtly assure&lt;br&gt; That your host is at home with the rich and the poor.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Enough of these verses -- on with the mission!&lt;br&gt; Our task is as broad as the human condition!&lt;br&gt; Just parry to God the biblical promise is true:&lt;br&gt; The poor ye shall always have with you.&lt;br&gt; &lt;br&gt; (The Development Set, from Graham Hancock's book "Lords of Poverty").&lt;/blockquote&gt;So here we go. Crowds of people with consciousness of a better world and tireless of preaching about a new world with high taste of aesthetics, justice and peace. It's not about lifestyle. I'd rather call this a fast growing cult. And I certainly am not be able and can't afford to join the set. So, those who still love of having plastic flower in their pots, love instant coffee, smoke cigarettes, don't have any idea about wide variety of exotic Asian foods, and other low taste life style, welcome to our home. A home for low caste of smokers....&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-6149839271662542938?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/6149839271662542938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=6149839271662542938' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/6149839271662542938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/6149839271662542938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2008/04/finally-home-for-smokers.html' title='Finally, A Home For Smokers'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-8831951423988810116</id><published>2007-09-28T01:58:00.001+07:00</published><updated>2007-09-28T02:05:22.389+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='redaksi'/><title type='text'>Luar Biasa!</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="mailto:awicaks@gmail.com"&gt;Awicaks&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berturut-turut saya menerima empat tulisan dari kawan-kawan Labsters83. Gina, Iki dan Marta. Bahkan Gina mengirimkan dua tulisan selama kurun satu minggu. Penuh semangat saya menyuntingnya, meskipun saya sedang disibukkan oleh perjalanan mondar-mandir Bangkok, Jakarta dan Jayapura. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mudah-mudahan kawan-kawan Labsters83 lain ikut bersemangat berbagi pengalalaman sambil mencoba berlatih bersama mengutarakannya dalam bentuk tulisan. &lt;em&gt;Nothing I can say, guys, it's fun&lt;/em&gt;....&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jayapura, 28 Sept 2007&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-8831951423988810116?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/8831951423988810116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=8831951423988810116' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/8831951423988810116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/8831951423988810116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/09/luar-biasa.html' title='Luar Biasa!'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-5971557462816627183</id><published>2007-09-28T01:51:00.001+07:00</published><updated>2007-09-28T02:05:02.339+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya anggota'/><title type='text'>Tradisi Penukaran Uang Kecil Menjelang Lebaran</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="mailto:marta@bi.go.id"&gt;Marta D. Susetyo&lt;/a&gt; &lt;p&gt;Menjelang Idul Fitri orang biasanya sibuk membuat kue, mencari tiket pulang kampung, berbelanja pakaian &lt;i&gt;lebaran&lt;/i&gt; dan sebagainya. Agaknya saya tidak tergolong kelompok itu. Saya tidak pernah membuat kue karena memang tidak punya kecakapannya. Mencari tiket pun tidak karena kampung halaman saya di Tanjung Priok yang dapat ditempuh dengan kendaraan sendiri. Kesibukan menjelang Idul Fitri justru datang dari orang-orang di sekitar saya yang ingin menukar kecil kecil. Hal ini sudah menjadi rutinitas tahunan. Sanak keluarga, kerabat, kawan-kawan, tetangga dan bahkan pedagang-pedagang langganan saya di rumah terlibat pada rutinitas tahunan tersebut.  &lt;p&gt;Sebenarnya pekerjaan saya tidak berhubungan dengan kegiatan kas. Saya bekerja di bagian pengembangan sumberdaya manusia (&lt;i&gt;human resource development&lt;/i&gt;, HRD) yang berhubungan dengan manusia, bukan dengan uang. Namun orang lain tidak mau tahu. Yang mereka paham, saya bekerja untuk Bank Indonesia. Dan itu artinya berurusan dengan uang.  &lt;p&gt;Dulu apabila orang ingin menukarkan uangnya, saya sering menalanginya dulu. Namun hal ini sungguh menyulitkan karena uang talangan tersebut tidak pernah kembali secara utuh. Saya pun maklum karena jika uang sudah keluar rekening pasti ada saja keperluannya. Belajar dari pengalaman itu saya pun mengubah siasat. Setiap ada yang ingin menukarkan uangnya mereka harus menyetor dulu. Saya akan menukarkan sesuai rincian yang diinginkan.  &lt;p&gt;Hingga saat ini masih saja ada yang ingin menukarkan uangnya. Biasanya kegiatan seperti ini berakhir menjelang Idul Fitri kurang satu minggu. Dan lama kelamaan saya menikmati kegiatan rutin tahunan ini. Saya hanya merenung, bukankah kita sebagai manusia harus selalu saling tolong menolong? Dan saya kira itulah yang dapat saya lakukan pada bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-5971557462816627183?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/5971557462816627183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=5971557462816627183' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/5971557462816627183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/5971557462816627183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/09/tradisi-penukaran-uang-kecil-menjelang.html' title='Tradisi Penukaran Uang Kecil Menjelang Lebaran'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-5696258176413187322</id><published>2007-09-28T01:49:00.001+07:00</published><updated>2007-09-28T02:05:02.339+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya anggota'/><title type='text'>Berwisata a la Backpackers? Kenapa Tidak!</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="mailto:legina.ramadhanti@syngenta.com"&gt;Legina Ramadhanti&lt;/a&gt; &lt;p&gt;Wisata &lt;i&gt;backpacking&lt;/i&gt;? Tak sesuai namanya, ini bukan berwisata yang menggunakan ransel (&lt;i&gt;backpack&lt;/i&gt;). Ini adalah cara berwisata dengan anggaran terbatas. Pengalaman saya ini berawal dari penawaran tiket gratis salah satu maskapai penerbangan dengan motto “&lt;i&gt;now everyone can fly&lt;/i&gt;”.  &lt;p&gt;Ketika kesempatan itu tiba, saya dan dua orang teman sepakat memilih Kuala Lumpur sebagai tujuan wisata. Kami bertiga memiliki kesamaan dalam hal bidang pekerjaan. Kami pun memiliki kesamaan sifat dan pembawaan,yakni gemar mencoba hal-hal baru dan sedikit &lt;i&gt;tomboy&lt;/i&gt;. Namun sesungguhnya kami berasal dari tiga perusahaan berbeda.  &lt;p&gt;Tiket gratis melalui internet pun berhasil kami peroleh. Meskipun gratis, tetap saja kami harus membayar pajak dan segala tetek-bengek yang sudah ditetapkan oleh pihak maskapai penerbangan. Ujung-ujungnya kami tetap harus merogoh kocek masing-masing sejumlah Rp. 526.000 untuk tiket pulang pergi Jakarta – Kuala Lumpur. Meskipun demikian, harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan harga normal. &lt;p&gt;Jika diperhitungkan dengan harga tiket yang begitu murah rasanya tidak sebanding jika kita harus menginap di hotel berbintang. Lagipula tinggal di hotel berbintang bukan hal aneh lagi bagi kami. Karena setiap kali ada tugas dari kantor masing-masing, seperti menghadiri seminar ataupun lokakarya pasti kami tinggal di hotel berbintang. Selain itu, kami pun masih harus membayar fiskal sebesar satu juta rupiah, dua kali lipat harga tiketnya. Kami pun bersepakat untuk memanfaatkan kelebihan dana untuk berbelanja dan membeli oleh-oleh. Maklumlah orang Indonesia.  &lt;p&gt;Kami bertiga juga bersepakat untuk mencoba menjadi turis ransel (&lt;i&gt;backpackers&lt;/i&gt;). Pasti seru. Selain lebih hemat dan menjadi turis ransel merupakan pengalaman baru bagi kami bertiga.  &lt;p&gt;Kami pun mulai menjelajahi internet, mencari lokasi penginapan murah meriah tetapi bersih. Pilihan kami jatuh pada Green Lodge Hostel yang berlokasi di daerah Bukit Bintang. Penginapan ini memiliki peringkat yang tinggi dalam hal tingkat hunian. Kebersihan adalah motto utama dari penginapan ini. Dengan tarif sembilan dollar AS per hari termasuk sarapan kami berkesimpulan Green Lodge Hostel adalah tempat yang kami cari. &lt;p&gt;Pertengahan Agustus 2007 kami berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Kuala Lumpur. Setibanya di Kuala Lumpur kami sempat dibuat bingung karena lokasi kedatangan untuk maskapai ini berbeda dengan lokasi kedatangan maskapai asing lainnya. Informasi yang kami peroleh ternyata memang maskapai ini memiliki terminal tersendiri, baik untuk keberangkatan maupun kedatangan. Wajar, kalau kami merasa asing dengan bandara ini.  &lt;p&gt;Keluar dari Bandara, beberapa wiraniaga beragam jasa transportasi bandara menghampiri kami. Mulai dari taksi &lt;i&gt;limousine&lt;/i&gt; hingga dengan &lt;i&gt;minibus&lt;/i&gt; dan bis besar berkapasitas 25 kursi. Karena niat kami adalah berwisata hemat kami pun memilih &lt;i&gt;shuttle bus&lt;/i&gt;. Hanya dengan membayar 10 Ringgit &lt;i&gt;shuttle bus&lt;/i&gt; membawa kami hingga ke depan penginapan di daerah Bukit Bintang. &lt;p&gt;Setelah mendaftarkan diri di Green Lodge Hostel kami diliputi perasaan puas campur kecewa. Puas, karena penginapan ini memang sungguh-sungguhbersih. Kecewa karena kami tidak menduga bahwa kamar yang diberikan pada kami tidak sesuai dengan gambar yang kami lihat ketika kami membacanya di internet.  &lt;p&gt;Kamar kami hanya ada tempat tidur dan pendingin udara. Sama sekali tidak ada jendela ataupun saluran udara. Cahaya kamar sangat bergantung kepada lampu listrik. Bisa dibayangkan betapa gelapnya kalau lampu dimatikan meski di siang hari. Kamar mandi terletak di luar kamar tidur. Benar-benar seperti kembali ke masa mondok (kost) saat masih mahasiswa dulu. Kami mencoba meminta pindah ke kamar lain, tetapi saat itu penginapan sedang penuh. Tidak ada pilihan selain menerima apa yang kami dapat. &lt;p&gt;Sempat terlintas keinginan untuk pindah ke penginapan lain. Masalahnya kami sudah telanjur membayar uang muka ketika kami memesan lewat internet. Untuk menghibur hati yang sedikit kecewa kami sepakat bahwa kamar hanya dipakai untuk tidur saja. &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt; selama di Kuala Lumpur kami tidak akan selalu tinggal di kamar. Setiap hari pasti kami akan berkeliling mengunjungi tempat wisata dan juga tempat belanja. Kami keluar pagi hari dan pulang menjelang petang. Selain itu, hal ini menjadi pelajaran dan juga pengalaman baru memesan akomodasi lewat internet.  &lt;p&gt;Kejutan berikutnya pun tiba. Sarapan pagi yang disediakan hostel hanya roti tawar didampingi selai. Lucunya lagi, ada ketentuan setiap tamu penginapan harus melayani dirinya sendiri alias &lt;i&gt;self service&lt;/i&gt;. Termasuk mencuci piring dan gelas masing-masing selesai sarapan. Benar-benar seperti suasana anak kost. Geli juga kami dibuatnya, karena biasanya kami selalu dilayani kalau menginap di hotel. Bagaimanapun juga itulah imbalan dari harga sembilan dollar AS per kepala. Sungguh suatu pengalaman yang sama sekali baru bagi kami.  &lt;p&gt;Kiat berhemat lain yang kami terapkan adalah berpantang naik taksi selama berada di Kuala Lumpur, kecuali pada keadaan darurat. Kami bersepakat untuk menggunakan bis atau &lt;i&gt;mass rapid transport&lt;/i&gt; (MRT). Padahal, kalau kami bepergian atas biaya kantor pantang bagi kami naik bus. Kemana-mana pasti naik taksi.  &lt;p&gt;Ternyata transportasi umum di Kuala Lumpur, khususnya bus, sangat menguntungkan kami. Petunjuk rute perjalanan, nomor bus serta tujuan betul-betul jelas. Selain, tentu saja, murah dan nyaman. Murah karena, cukup dengan membayar dua Ringgit kita sudah bisa mencapai satu tujuan. Dengan membayar empat Ringgit kita bisa menjangkau beberapa tujuan dengan beberapa kali berganti bus. Semacam karcis terusan. Nyaman, karena memang bus-bus di Kuala Lumpur dilengkapi dengan pendingin dan amat terjaga kebersihannya. Rasanya berbeda 180 derajat dengan kondisi bus di Jakarta. Kalau saja bus-bus di Jakarta sama dengan yang kami tumpangi di Kuala Lumpur, mau rasanya saya berangkat kantor naik bus.  &lt;p&gt;Tanpa terasa tiga malam sudah kami mengelilingi berbagai tempat wisata dan belanja di Kuala Lumpur, dari mulai Petaling Street, Little India hingga KLCC. Kami pun mencicipi nasi lemak di kaki lima hingga makan laksa penang di restoran. Benar-benar pengalaman baru buat kami bertiga. Berwisata dengan tiket murah, tinggal di penginapan hostel yang juga murah, serta menjelajahi kota menggunakan transportasi umum yang nyaman.  &lt;p&gt;Ternyata, wisata keluar negeri &lt;i&gt;a la backpakers&lt;/i&gt; itu memang sungguh-sungguh murah dan memberikan pengalaman tersendiri. Sungguh sulit dibandingkan dengan berwisata menggunakan jasa agen perjalanan. Tidak percaya? Silakan coba sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-5696258176413187322?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/5696258176413187322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=5696258176413187322' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/5696258176413187322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/5696258176413187322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/09/berwisata-la-backpackers-kenapa-tidak.html' title='Berwisata a la Backpackers? Kenapa Tidak!'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-7395813125830294775</id><published>2007-09-26T15:22:00.001+07:00</published><updated>2007-09-28T02:05:02.339+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya anggota'/><title type='text'>Sepeda Motor - Benci Tapi Untung</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="mailto:owner@rotty.net"&gt;Frederik Rotty&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lagu kelompok musik Gigi langsung terngiang di kepala ketika di hadapan mata disuguhi ulah ugal-ugalan pengendara sepeda motor di Jakarta, "Kepala ini pusing, pusing, pusing..."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang kenalan bahkan berkomentar, "Sepeda motor sudah menjajah hak-hak pengendara kendaraan lain di jalanan Jakarta." Jujur saya akui, saya setuju dengan komentar itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Coba perhatikan bagaimana motor-motor itu seenaknya meliuk-liuk di jalan; menyalip dari kiri, dari kanan dan sudah tidak lagi mengindahkan rambu-rambu lalulintas. Meskipun jika bicara tentang tingkat kepatuhan warga terhadap rambu lalu lintas di Jakarta kita tidak bisa mengenyampingkan kelompok lain, termasuk pejalan kaki. Tetapi tulisan ini tak hendak membahas kelompok pengguna lain, karena diskusi tentang tertib berlalu-lintas di Jakarta boleh diberi judul &lt;em&gt;the never ending sotry&lt;/em&gt;. Saya hanya ingin fokus kepada sepeda motor, karena terkait dengan pengalaman pribadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menarik, bahkan diantara pengendara sepeda motor itu sendiri saya sering mendengar keluhan dan prihatin dengan perilaku pengendar sepeda motor yang lain yang cenderung ugal-ugalan di jalan raya.&amp;nbsp; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tulisan ini sama sekali bertujuan membahas tentang sepeda motor di Jakarta. Saya hanya ingin berbagi tentang pengalaman mobil saya ditabrak sepeda motor. Kecelakaan ini saya alami dua kali dengan pola kejadian yang sama: sepeda motor yang sedang berhenti menghantam mobil saya karena sepeda motor tadi ditabrak oleh sepeda motor lain. Ini terjadi dalam kurun waktu satu bulan, dimana tabrakan yang kedua terjadi tidak sampai dua minggu setelah mobil saya keluar dari bengkel untuk perbaikan kerusakan dari tabrakan yang pertama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada tabrakan pertama salah seorang pengendara motor (yang motornya menghantam mobil saya) melarikan diri dan mobil saya mengalami kerusakan cukup parah. Untung mobil saya (masih) diasuransi, jadi bisa langsung masuk bengkel. Cuma saya rugi waktu; seminggu lebih transportasi jadi terhambat, yang kalau dihitung-hitung sebenarnya jatuhnya jadi mahal juga... &lt;em&gt;Time is money, right?&lt;/em&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada kedua kecelakaan tadi, pengendara motor yang menabrak itu punya alasan sama: Sedang &lt;em&gt;meleng&lt;/em&gt;. Alias tidak memperhatikan situasi sekeliling dengan baik. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di kasus pertama saya tidak minta ganti rugi kepada si pengendara sepeda motor bersangkutan. Saya lihat sepeda motornya juga rusak cukup parah. Istri pun mengeluh, dan mengatakan saya terlalu baik hati. Kebetulan saat kecelakaan terjadi ia berada di mobil bersama saya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya jadi meledak ketika si pengendara motor 'tega' menanyakan nasib biaya perbaikan sepeda motornya kepada saya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Lah, &lt;em&gt;wong&lt;/em&gt;, situ yang &lt;em&gt;nabrak&lt;/em&gt;. Sudah bagus saya nggak minta ganti rugi dan situ &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; saya bawa ke polisi, eh, berani-beraninya situ tanya ongkos perbaikan motor sama saya!" &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia pun langsung tersadar. Mungkin sebelumnya dia masih dalam kondisi terkejut, sehingga tidak mampu berpikir lurus. Akhirnya dia setuju untuk tidak memperpanjang urusan itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada kasus kedua, saya semakin pintar mengendalikan situasi. Setelah ditabrak, mobil langsung saya pinggirkan. Saya langsung minta ganti rugi Rp. 100.000 untuk asuransi. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya penabrak setuju. Untungnya kecelakaan terjadi tak jauh dari lokasi bank yang memiliki ATM. Maka uang Rp. 100.00 saya dapat dan saya melanjutkan perjalanan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setiba di rumah, saya perhatikan lagi dengan lebih seksama bekas tabrakannya. Ternyata &lt;em&gt;bumper&lt;/em&gt; belakang mobil saya tidak mengalamai &lt;em&gt;cedera&lt;/em&gt; serius. Hanya tergores sedikit catnya. Yang pasti kalau dibawa ke bengkel, cuma buang-buang waktu aja. Ada rasa kasihan juga ke pengendara motor yang saya tuntut uang Rp. 100.000. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi, saya segera menepis pikiran itu. Hitung-hitung saya untung Rp. 100.000.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;24 September 2007&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-7395813125830294775?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/7395813125830294775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=7395813125830294775' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/7395813125830294775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/7395813125830294775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/09/sepeda-motor-benci-tapi-untung.html' title='Sepeda Motor - Benci Tapi Untung'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-253004121762156478</id><published>2007-09-21T00:05:00.001+07:00</published><updated>2007-09-28T02:05:02.339+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya anggota'/><title type='text'>Buah Simalakama - Orangtua, Makanan Bergizi &amp; Kesehatan Anak</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="mailto:legina.ramadhanti@syngenta.com"&gt;Legina Ramadhanti&lt;/a&gt; &lt;p&gt;Bagi orangtua manapun, anak adalah segala-galanya. Memiliki anak yang sehat dan cerdas merupakan keinginan hampir semua orangtua di muka bumi ini. Sebagai seorang ibu, saya selalu berusaha memberikan makanan terbaik untuk anak. Berharap asupan gizi yang baik akan mendorong pertumbuhan badan dan perkembangan otak yang lebih baik.  &lt;p&gt;Kisah ini berawal ketika anak saya mulai makan makanan tambahan selain susu. Ditunjang dengan hobby memasak, beragam menu selalu saya sajikan bagi anak tercinta. Saya selalu berhasil membuat nafsu makannya bangkit kembali meskipun saat itu ia sedang tidak berselera, bahkan sedang sulit makan. Begitu banyak kreasi menu balita yang mengalir begitu saja dari otak saya. Saya selalu berusaha untuk tidak pernah memberikan menu yang sama pada si kecil dalam sehari. Ada kepuasan tersendiri ketika memberikan asupan yang bergizi dan disukai anak. Meskipun konsekuensinya saya harus bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan anak. Hilang semua rasa letih saya ketika si anak makan dengan lahapnya dan ludes dalam sekejap saja. Saya pun bisa berangkat ke kantor dengan perasaan puas dan lega. &lt;p&gt;Banyak kawan-kawan yang mengeluh tentang selera makan anak mereka. Kawan-kawan itu sungguh dibuat pusing tujuh keliling. Kalau dibiarkan, sang anak bisa tidak makan seharian. Namun jika dipaksa, si anak akan berkeras untuk melawan. Situasi tersebut mendorong orang tua akan menggunakan senjata pamungkas. Makanan apa pun akan ditawarkan sepanjang mampu membuat si anak mau makan. Meskipun itu harus ke restoran yang menjajikan menu sehat maupun junk food. &lt;p&gt;Pada situasi seperti itu saya amat bersyukur karena tidak pernah merasakan apa yang dirasakan kawan-kawan. Bagi anak saya, hanya ada dua kategori makanan, enak dan enak sekali. Sulit bagi saya membayangkan bagaimana seorang anak memerlukan waktu berjam-jam untuk menghabiskan makanannya. Atau ada anak yang bahkan menyimpan makanannya di mulut hingga ia tertidur. &lt;p&gt;Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata apa yang selama ini saya syukuri berubah menjadi boomerang. Anak saya menjadi penikmat makanan enak dan tidak dapat mengendalikan nafsu makannya. Meski hanya gado-gado, asalkan enak, pasti habis dilahapnya. Apalagi ia berhadapan dengan makanan-makanan favoritnya. Anak saya pasti lupa diri.  &lt;p&gt;Kondisi ini yang membuat saya khawatir. Di usianya yang belia, 13 tahun, berat badannya sudah mencapai 90 kg dengan tinggi badan 165 cm. Mungkin ungkapan, “sungguh amat sangat over” belum cukup untuk menggambarkan keadaan anak saya. Saya sudah coba untuk konsultasi dengan dokter gizi, tapi selalu berakhir dengan pertengkaran ketika saya harus menerapkan diet makanan padanya. Dengan keahlian memasak yang saya miliki, saya coba buatkan ragam makanan yang berkalori rendah. Namun hasilnya masih jauh panggang dari api. Karena anak saya akan bergerliya mencari tambahan makanan lainnya yang umumnya berkalori tinggi tanpa sepengetahuan saya. Pada situasi ini, saya justru berkeinginan seperti kawan-kawan yang sering saya dengar keluhannya menghadapi anak-anak mereka yang sulit makan.  &lt;p&gt;Keprihatinan saya menjadi-jadi apabila ia terserang penyakit. Ketika terserang flu, dengan kondisi badannya yang tambun, anak saya mengalami kesulitan bernafas secara normal. Ada rasa bersalah dalam hati, mengapa saya terlalu berambisi untuk selalu memberikan makanan terbaik, yang ternyata malah mengancam kesehatannya. Harus disadari bahwa apa yang menurut kita baik, belum tentu berakhir dengan baik. &lt;p&gt;Saat ini, saya harus berjuang keras untuk bisa mengurangi bobot tubuhnya dengan cara membangkitkan kesadarannya bahwa &lt;i&gt;overweight&lt;/i&gt; itu tidak sehat dan olah raga yang diimbangi dengan asupan makanan yang sesuai adalah cara terbaik baginya untuk dapat menurunkan berat badannya. Mudah-mudahan hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kawan-kawan lainnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-253004121762156478?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/253004121762156478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=253004121762156478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/253004121762156478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/253004121762156478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/09/buah-simalakama-orangtua-makanan.html' title='Buah Simalakama - Orangtua, Makanan Bergizi &amp;amp; Kesehatan Anak'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-4965051863944082752</id><published>2007-08-10T06:21:00.001+07:00</published><updated>2007-08-10T06:31:43.200+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pancingan'/><title type='text'>Marinduque, Pergulatan Tak Kenal Lelah Warga Biasa</title><content type='html'>Awicaks &lt;p&gt;Meski lelah menempuh sepuluh jam perjalanan dari Manila, saya terus menjelajahi jalan-jalan yang sempit dengan susunan rumah dan toko yang rapih berjejer di kota Boac, pulau Marinduque, Filipina. Saya datang memenuhi undangan Marinduque Community Environmental Council (MACEC) untuk menghadiri Musyawarh Besar (&lt;em&gt;General Assembly&lt;/em&gt;) organisasi warga itu, sekaligus merayakan ulang tahun Monsignor Keuskupan Marinduque.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/Rruht4oznDI/AAAAAAAAADs/i36_dvf30sY/s1600-h/DSC01779.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 302px; height: 227px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/Rruht4oznDI/AAAAAAAAADs/i36_dvf30sY/s320/DSC01779.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096845212969573426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siapa menyangka kehidupan sosial warga di kota Boac yang teduh dan hangat ini ternyata pernah diwarnai malapetaka kehidupan yang luarbiasa. Warga, perempuan dan laki-laki, anak-anak, muda dan tua, berbagai lapisan kalangan, saling bergandengan tangan menghadapi sebuah perusahaan raksasa yang kebal hukum. Pergulatan sepanjang sepuluh tahun itu membuahkan hasil nyata, meski hingga saat ini belum mampu memuaskan warga. Perusahaan raksasa tambang itu, Mark-copper hengkang. Namun mereka enggan memberikan kompensasi atas malapetaka yang diderita warga. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/RruiCooznEI/AAAAAAAAAD0/FRB6jjEgt0g/s1600-h/DSC01786.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 312px; height: 235px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/RruiCooznEI/AAAAAAAAAD0/FRB6jjEgt0g/s320/DSC01786.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096845569451859010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di kalangan wartawan Amerika Utara dan Eropa Barat, pulau Marinduque pernah menjadi kepala berita paling panas di tahun-tahun menjelang Millenium, ketika terowongan pembuangan &lt;em&gt;tailing&lt;/em&gt; (ampas hasil olahan kasar bahan tambang) bocor dan mencemari Sungai Boac, di pulau kecil berpenduduk cuma sekian ratus jiwa itu. Marinduque menjadi simbol skandal investasi menjelang Millenium. Sungai Boac, sebagai tulang punggung kehidupan warga pulau Marinduque, dalam hitungan hari menjadi sumber malapetaka seluruh bentuk kehidupan di pulau kecil yang terletak di barat daya Pulau Luzon, Filipina. Masyarakat terserang penyakit gatal-gatal, hewan-hewan air mati mengapung, dan bahkan hewan lain yang mengonsumsi air sungai pun tergolek. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/RrujiIoznFI/AAAAAAAAAD8/caXRQHpqxl0/s1600-h/DSC01806_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/RrujiIoznFI/AAAAAAAAAD8/caXRQHpqxl0/s320/DSC01806_01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096847210129366098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Keuskupan Marinduque didesak warga untuk bertindak, karena pada masa itu para pejabat pemerintahan kota Boac tak bereaksi. Salah seorang anggota parlemen setempat, Myke Mangala, mengorganisir gerakan massif warga, menggalang dukungan gereja serta pihak-pihak di luar pulau Marinduque untuk mengusir perusahaan raksasa tersebut dan menuntut kompensasi dan pemulihan hak-hak warga atas kehidupan sehat yang mereka enyam sebelum Mark-copper hadir mengeruk kekayaan alam pulau yang telah dihuni warga jauh sebelum pendudukan Spanyol di abad ke-16. Setelah berjuang sejak 1993, hasil baru dipetik pada 2002. Bahkan pemerintahan nasional Republik Filipina turun tangan. Pemberitaan media-media di Amerika Utara dan Eropa Barat menampar keras kalangan investasi asing serta politisi dan birokrat Filipina. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya coba menakar apakah gerakan tersebut adalah gerakan warga, dengan mengajak berbincang beberapa orang yang kebetulan saya temui saat &lt;em&gt;kongkow&lt;/em&gt; di salah satu &lt;em&gt;cafe&lt;/em&gt; setempat. Orang-orang yang saya temui dan saya ajak &lt;em&gt;ngobrol&lt;/em&gt;, bercerita penuh semangat. Mereka sangat bangga dengan keberhasilan mereka merebut kembali hak-hak atas lingkungan yang sehat dan kehidupan yang lebih baik. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kami bisa hidup selamat dan sejahtera tanpa harus melibatkan investor asing. Kami buktikan kepada warga Filipina lain, bahwa investasi itu baru berguna jika mampu menjamin keselamatan dan kesejahteraan warga setempat. Karena umumnya mereka hanya peduli kepada laba bagi perusahaan mereka saja," Ujar Ferdinand del Rossi, seorang pemilik &lt;em&gt;internet cafe&lt;/em&gt; di kota kecil Boac itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ferdinand juga mengungkapkan kebanggaannya atas sosok Myke Mangala, seorang politikus mapan yang rela melepaskan semua hak-hak istimewanya (&lt;em&gt;privilege&lt;/em&gt;) sebagai anggota parlemen setempat untuk hadir bersama warga dan bekerja keras mengerahkan warga untuk membangun kesadaran kritis mereka tentang pentingnya hak-hak atas hidup dan lingkungan yang sehat. "Selama bertahun-tahun ia hidup dari sumbangan warga. Warga pun tulus menjamin kelangsungan hidup Myke, karena disadari bahwa Myke berdiri di depan untuk memimpin kami semua."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Malam hari, saat duduk di teras kamar yang terletak di salah satu sudut kompleks Keuskupan Marinduque, saya merenungkan Indonesia. Saya teringat banyak kejadian serupa di negeri sendiri. Namun kejadian tersebut senantiasa berakhir tragis. Warga harus menyingkir dari ruang hidupnya, mengalah kepada tujuan yang lebih besar, pembangunan nasional, yang faktanya justru mengancam keselamatan mereka. Tak perlu analisis mendalam untuk sekedar mendapatkan penjelasan yang nalar tentang fenomena ini. Logika sejarawan Arnold Toynbee cukup menjelaskan.&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;p&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It's not the government that murders the society, it's rather the society is committed suicide...&lt;/span&gt;"&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;10 Agustus 2007&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-4965051863944082752?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/4965051863944082752/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=4965051863944082752' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/4965051863944082752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/4965051863944082752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/08/marinduque-pergulatan-tak-kenal-lelah.html' title='Marinduque, Pergulatan Tak Kenal Lelah Warga Biasa'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/Rruht4oznDI/AAAAAAAAADs/i36_dvf30sY/s72-c/DSC01779.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-5958106355967742198</id><published>2007-07-21T18:34:00.001+07:00</published><updated>2007-07-21T18:35:08.009+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grafis'/><title type='text'>Nyok Bikin Kaos!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/RqHvUIoznCI/AAAAAAAAADk/Rp-SyWdWbLA/s1600-h/kaos.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/RqHvUIoznCI/AAAAAAAAADk/Rp-SyWdWbLA/s320/kaos.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089612183100431394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-5958106355967742198?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/5958106355967742198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=5958106355967742198' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/5958106355967742198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/5958106355967742198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/07/nyok-bikin-kaos.html' title='Nyok Bikin Kaos!'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/RqHvUIoznCI/AAAAAAAAADk/Rp-SyWdWbLA/s72-c/kaos.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-4444773521061965303</id><published>2007-07-21T18:23:00.001+07:00</published><updated>2007-07-21T18:25:12.323+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grafis'/><title type='text'>Fossil Lapanpuluhan yang Masih "Mak-Nyuuss"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/RqHs9ooznBI/AAAAAAAAADc/S95yE2xcraw/s1600-h/pinkfloyd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/RqHs9ooznBI/AAAAAAAAADc/S95yE2xcraw/s320/pinkfloyd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089609597530119186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-4444773521061965303?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/4444773521061965303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=4444773521061965303' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/4444773521061965303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/4444773521061965303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/07/fossil-lapanpuluhan-yang-masih-mak.html' title='Fossil Lapanpuluhan yang Masih &quot;Mak-Nyuuss&quot;'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/RqHs9ooznBI/AAAAAAAAADc/S95yE2xcraw/s72-c/pinkfloyd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-2011767172637946047</id><published>2007-07-20T21:40:00.001+07:00</published><updated>2007-08-10T05:40:59.490+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya anggota'/><title type='text'>Perempuan di Sarang Penyamun - "Dunia Lelaki?"</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="mailto:tatiinoue@yahoo.com"&gt;Tati Inoue&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Artha Gading, 14 Juli 2007, sambil merayakan ulang tahun saya, beberapa lelaki Labs83 berkumpul, sambil berbincang kesana kemari. Seperti biasa, saya adalah satu-satunya perempuan saat itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak ada yang khusus dari kumpul-kumpul tersebut. Namun pembicaraan sempat menukik ke topik "dunia lelaki." Tafsir saya tentang topik "dunia lelaki" adalah dunia para lelaki menikah (&lt;em&gt;married men&lt;/em&gt;) di luar rumah (dan berarti juga di luar jangkauan pengawasan sang istri). Perbincangan itu sempat menjadi serius, hingga pada akhirnya satu sama lain saling menertawakan diri masing-masing. Sebagai satu-satunya perempuan di situ, saya merasa menjadi moderator perbincangan para lelaki.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah seorang kawan mengisahkan kegagalannya berrumahtangga karena campur tangan ibu mertua yang kelewat batas, pada situasi ekonomi rumahtangga yang kurang baik. Hal itu diperparah karena sang ibu mertua tidak memperbolehkan sang istri untuk pindah dan hidup mandiri bersama sang suami. Rumahtangganya berakhir dengan perceraian.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kawan tersebut akhirnya bisa kembali bekerja dan menikah lagi. Pernikahan kedua ternyata adalah pernikahan kedua bagi sang istri. Kali ini ia menghadapi istri yang pencemburu. Sang istri senantiasa mengecek keberadaan sang suami. Selain itu kuasa dan kendali sang istri begitu luas dan besar. Semua penghasilan yang diperoleh kawan itu harus diserahkan kepada sang istri. Ia harus meminta kepada istrinya jika membutuhkan sesuatu. Sang istri punya pemikiran bahwa inilah cara terbaik mencegah suami menyeleweng.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kawan itu sebenarnya ingin pegang uang juga. Kawan lain menyarankan, agar diserahkan saja semua gajinya, tetapi pemasukan tambahan menjadi hak suami. Saya dan kawan yang lain lagi berpendapat sama. Meski demikian usulan tersebut tak semudah itu dilaksanakan, karena istrinya selalu memeriksa dompet dan menginterogasinya apabila ada uang tambahan yang ditemukannya. Posisi itu, menurut kawan yang lain sangat tidak baik. Terutama jika rumahtangga tidak semulus yang diharapkan. Jika terjadi situasi yang ekstrem, misal perceraian, "Bisa-bisa kita keluar dari rumah itu tanpa memiliki apa pun."  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pembicaraan melompat ke kawan lain yang masih melajang hingga saat ini. Ia diserang berbagai pertanyaan yang langsung menukik, "Sebenarnya kau berniat nikah atau tidak sih?" &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ya niat dong. Enak aja!" Jawabnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Tetapi kenapa belum juga menikah hingga sekarang? Kau terlalu pemilih atau standarmu terlalu tinggi?" Kejar yang lain. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya belum menemukan yang cocok, dan tidak mau menikah terpaksa hanya karena alasan usia." Sang bujang lapuk menjawab. "Saya menjalani hidup apa adanya. Dan saya tak mau memaksakan diri jika memang rasanya belum &lt;em&gt;sreg&lt;/em&gt;.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Wah, kau pasti jadi semakin hati-hati, belajar dari perkawinan kawan-kawan yang sebagian bermasalah...." Komentar saya. "Apalagi kau selama ini jadi tempat sampah psikologis kawan-kawan yang punya masalah dengan perkawinannya...." &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang bujang lapuk hanya menjawab, "Kalau saya sudah menikah, mudah-mudahan saya tidak akan selingkuh seperti kalian semua!" &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semua yang hadir hanya bisa tersenyum kecut. Tapi mereka juga menantang pernyataan sang bujang lapuk, "Okay, kita lihat saja nanti." &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Giliran kawan yang lain untuk berkisah. Kawan satu ini mengatakan bahwa masalahnya adalah, sering tidak tahan kalau sudah dikejar-kejar perempuan. Ia selalu sulit menolak. Semua tertawa dan mencemooh.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Lho, memangnya ada laki-laki yang tidak pernah menyeleweng?" Ia bertanya kepada yang lain, kecuali saya tentu saja. Para lelaki yang lain hanya terdiam. Termasuk si bujang lapuk. Kawan yang tak tahan dikejar-kejar perempuan itu menambahkan. "Saya yakin 90% laki-laki pernah menyeleweng." Ketiga laki-laki Labs83 itu semakin rapat menutup bibirnya. Bisajadi mereka bisu karena kehadiran saya, seorang perempuan di tengah "para penyamun." &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana dengan kawan satu yang pengusaha sukses?  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konglomerat satu ini memang dikenal dekat dengan perempuan-perempuan, dari yang agak manis, manis, hingga sangat manis. Namun harus diakui, ia hidup di dunia yang keras, baku-siku dengan pesaingnya untuk merebut tender di kantor-kantor negara, dan sebagainya. Kehadirannya yang selalu didampingi para "dayang-dayang" cantik ternyata mempermudah pekerjaannya. Ia berpendapat, "Perempuan punya keunggulan dalam hal pemasaran (&lt;em&gt;marketing&lt;/em&gt;)." &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semua berpendapat, betapa mengasyikkan bisnis yang digelutinya. Main golf, terbang kesana kemari, senantiasa tak lepas dari dunia hiburan, serta senantiasa ditemani perempuan-perempuan cantik. Tapi sang konglomerat berpendapat lain, "Itu semua adalah siasat bisnis semata." &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Perempuan-perempuan yang mendampingi saya, sudah saya latih untuk bersikap elegan dan tidak memalukan, tahu bagaimana berbicara yang baik serta dapat menyimpan rahasia (&lt;em&gt;discreet&lt;/em&gt;). Mereka semua selalu saya perkenalkan ke istri saya. Jadi kalian jangan berpikir yang macam-macam." Ujarnya.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami semua, terutama para lelaki Labs83 yang hadir malam itu, hanya tersenyum kecil. Tapi senyuman itu disertai sorot mata tak percaya, tetapi mengisyaratkan bahwa mereka semua memahami dan bisa mengerti "posisi dan situasi" yang dialami sang konglomerat.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pembicaraan malam itu menimbulkan banyak petanyaan di benak saya. "Apakah sifat lelaki itu secara alami adalah petualang?" Tidak pernah puas dengan satu istri? Ada beberapa relasi dan kolega (laki-laki) pernah mengatakan, "Tidak ada Ti laki-laki yang benar-benar bisa hidup dengan hanya satu perempuan. Tapi istri tetap nomor satu, baik di otak maupun di hati." &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagian kawan lain (juga lelaki) mengatakan, "Hidup ini keras, sehingga butuh variasi, agar tidak monoton. Yah, begitulah. Mulai dari sekedar saling pandang, berbincang akrab, saling merayu, saling pegang tangan, hingga berlanjut dengan kecan dan ke tempat tidur. Yang penting kita kan tetap pulang ke rumah. Kalau toh harus menginap itu juga karena tanggung." &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah karena para lelaki begitu menyukai persaingan? Sehingga dunia mereka yang keras itu membutuhkan pelampiasan, yang umumnya berupa usaha mencari tempat yang bisa memanjakan dan menghibur? Sungguh ini sulit saya pahami. Bagi para lelaki itu, hal-hal seperti itu adalah sekedar keisengan belaka. Namun tidak jarang keisengan itu berbuntut masalah serius. Ada yang kebablasan atau telanjur sayang. Memang aneh dunia laki-laki. Coba perhatikan akronim di bawah ini: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selingkuh = selingan indah keluarga utuh.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-2011767172637946047?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/2011767172637946047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=2011767172637946047' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/2011767172637946047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/2011767172637946047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/07/perempuan-di-sarang-penyamun-lelaki.html' title='Perempuan di Sarang Penyamun - &amp;quot;Dunia Lelaki?&amp;quot;'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-809173846377467866</id><published>2007-07-20T13:00:00.001+07:00</published><updated>2007-07-20T13:03:11.903+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya anggota'/><title type='text'>Menghargai Hidup - Belajar dari Kanker Rahim</title><content type='html'>&lt;a href="mailto:mel_tambunan@garuda-indonesia.com"&gt;Mel Tambunan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya mendapat kiriman informasi tentang kanker rahim dari seorang teman. Informasi tersebut sangat bermanfaat buat saya, karena kakak ipar saya saat ini sedang menderita kanker rahim stadium empat &lt;em&gt;terminal&lt;/em&gt;, artinya penyebarannya sudah sangat luas. Dokter sudah angkat tangan, karena usaha apapun secara medis tidak lagi dapat dilakukan (operasi, radiasi atau pun kemoterapi). Keadaan yang sangat menyesakkan dada, sebuah batas tipis hidup yang menderita dengan kematian. Saat ini ia hanya bisa terbaring lemah tak berdaya.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Belakangan kami mencoba pengobatan alternatif dengan membawanya ke sinshe yang terkenal karena berhasil menyembuhkan banyak pasien kanker, termasuk beberapa diantaranya adalah keluarga saya. Namun sinshe itu menolak kedatangan kami setelah kakak saya dua kali menjalani pemeriksaan. Sesak sekali dada ini menghadapi penolakan itu.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini semua berawal di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Saat itu kakak ipar saya menjalani pemeriksaan medik oleh seorang dokter di sana. Menurut diagnosa dokter terdapat tumor biasa pada rahim kakak ipar saya. Maka dilakukanlah operasi mengangkat tumor tersebut.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun enam bulan setelah operasi kakak ipar saya merasakan ada gangguan buang air kecil. Bahkan sempat tidak bisa buang air kecil sama sekali. Keluarga memutuskan untuk membawanya ke Medan. Di sebuah rumah sakit di Medan diambil tindakan mengurangi penderitaan kakak ipar saya yang kesulitan buang air kecil. Dibuatkan selang buatan yang menghubungkan ginjal dan saluran kemih. Namun penderitaan tidak berkurang sama sekali. Akhirnya diputuskan untuk membawanya ke Jakarta. Di Jakarta kakak saya didiagnosa positif kanker stadium empat terminal. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selera makan kakak ipar saya terus merosot akhir-akhir ini. Ia pun semakin sulit ke belakang, sering menderita demam, dan wajahnya semakin sayu dengan sorot mata kosong. Tak ada yang ia butuhkan selain perhatian dan pengertian dari segenap keluarga. Sudah dua minggu terakhir kami membawanya pulang dari Rumah Sakit dan meneruskan obat dokter dan segala macam obat alternatif seperti buah merah, susu berkolustrum, dan sebagainya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain berharap mukjizat Yang Maha Kuasa untuk kesembuhan kakak ipar saya. Namun saat yang sama kami harus berbesar jiwa dan berserah untuk siap menerima apa pun yang akan diberikan Yang Maha Kuasa. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya banyak memperoleh pelajaran dan hikmah berharga dari keadaan ini. Tindakan dini memang sangat penting. Melakukan &lt;em&gt;pap smear&lt;/em&gt; secara teratur terlebih pada usia di atas 40an menurut banyak ahli medis adalah hal penting bagi para perempuan. Tentu saja penting pula untuk hidup secara sehat dan senantiasa gembira serta berusaha mengelola tekanan-tekanan (&lt;em&gt;stress&lt;/em&gt;). Yang tak kalah penting adalah komunikasi dengan Sang Empunya, agar dalam mengelola dan menata hidup senantiasa sesuai dengan keinginanNya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;20 Juli 2007&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-809173846377467866?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/809173846377467866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=809173846377467866' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/809173846377467866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/809173846377467866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/07/menghargai-hidup-belajar-dari-kanker.html' title='Menghargai Hidup - Belajar dari Kanker Rahim'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-4653134546389110335</id><published>2007-07-14T09:18:00.001+07:00</published><updated>2007-07-14T09:40:59.034+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pancingan'/><title type='text'>Sidomakmur, Kampung Gelandangan Asal Surabaya</title><content type='html'>Arief Wicaksono &lt;p&gt;Setelah berhari-hari terbiasa bergaul dengan masyarakat Irarutu, Papua Barat, tiba-tiba saya berdiri di depan sebuah perkampungan yang hampir keseluruhan penduduknya berasal dari&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/Rpg3plPMHfI/AAAAAAAAADU/wG5Qrj51JGc/s1600-h/Babo+Saengga02+003.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/Rpg3plPMHfI/AAAAAAAAADU/wG5Qrj51JGc/s320/Babo+Saengga02+003.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086876966624959986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Surabaya. Kampung ini terletak kira-kira sepuluh kilometer dari kompleks PT Bumwi, sebuah perusahaan pemrosesan pasca-tangkap udang di Teluk Bintuni, Papua Barat. Ada dua nama yang digunakan untuk kampung ini. Orang setempat menyebut kampung mereka Sidomakmur. Namun warga adat menamakan kampung ini Wimro. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seketika kerinduan akan makanan khas Jawa Timuran terbayar. Tak lama setelah perahu motor milik Ko-operasi PERDU merapat di dermaga Sidomakmur, saya dan keempat asisten riset pun menghambur ke arah warung-warung dengan plang yang provokatif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"WARUNG SUROBOYO - Sedia Nasi Rawon - Soto Lamongan - Soto Sulung - Rujak Cingur - Tahu Petis"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Otak cepat terangsang oleh kata-kata di plang nama warung-warung tersebut. Air liur menggantung, karena kepala dipenuhi imaji tentang makanan-makanan khas Jawa Timuran. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/Rpg2VlPMHdI/AAAAAAAAADE/Ky6WA6h-YAA/s1600-h/petacoba.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 379px; height: 289px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/Rpg2VlPMHdI/AAAAAAAAADE/Ky6WA6h-YAA/s320/petacoba.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086875523515948498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"RUMAH MAKAN SOPONYONO - Sedia Nasi Rawon - Soto Lamongan - Soto Sulung - Rujak Cingur - Tahu Petis"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya teringat Nasi Rawon Setan di Surabaya. Warung nasi rawon yang hanya buka malam hari. Tempat para wartawan pengejar &lt;em&gt;deadline&lt;/em&gt; nongkrong hingga pagi. Dagingnya empuk, &lt;em&gt;kluwek&lt;/em&gt;-nya wangi. Air liur makin mengggantung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"CAVE WIMRO - Sedia Nasi Rawon - Soto Lamongan - Soto Sulung - Rujak Cingur - Tahu Petis" (hehehe, maksudnya &lt;em&gt;cafe&lt;/em&gt;, tapi untung warung itu tidak dibangun sebuah gua, &lt;em&gt;cave&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Langkah saya dan kawan-kawan asisten riset terhenti. Bingung. Ada lebih dari sepuluh warung makan di dekat dermaga Sidomakmur. Namanya macam-macam, warna-warninya pun beragam. Tapi menu yang ditawarkan sama.... Akhirnya kami bersepakat memilih Warung Suroboyo. Alasannya? Tanpa alasan! &lt;em&gt;Feeling&lt;/em&gt;! Hahahaha....&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pagi itu, setelah berperahu motor sepanjang lebih dari tiga jam, dan lebih dari dua minggu hanya makan ikan dan papeda, kami pesta makanan Jawa Timuran. Saya pesan nasi rawon. Agung pesan soto sulung. Solichin pesan soto Lamongan. Kami berlima seperti orang kesurupan. Mimpi apa kami semalam?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sambil menyantap sarapan kelas berat, baik dari segi jumlah maupun mutu (kholesterol jelas tinggi, asam urat tak perlu diragukan lagi), kami berbincang dengan pengunjung warung lain. Sejak pertama kali mendarat saya tidak melihat warga berambut keriting alias warga adat. Semua orang berraut muka Jawa. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka kisah tentang transmigrasi gelandangan Surabaya pada pertengahan tahun 70an pun bergulir dari beberapa pengunjung warung. Pak Samiyo, pemilik warung pun ikut meramaikan. Mereka ditransmigrasikan untuk menjadi buruh konstruksi perusahaan kayu Jayanti di Teluk Bintuni. Ketika Jayanti membuka bidang usaha baru, penangkapan udang dan pemrosesan pasca-tangkap, beberapa dari mereka pun dipindahkan ke proyek konstruksinya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekitar akhir 70an, terjadi eksodus besar-besaran akibat ketidakpuasan para buruh konstruksi serta buruh perusahaan kayu Jayanti dan perusahaan penangkapan udang PT Bumwi. Buruh-buruh yang eksodus itu pun kemudian menetap di wilayah ini. Mereka pelan-pelan membangun permukiman. Hingga terbangun permukiman serba lengkap seperti yang saya lihat saat ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di seberang warung tempat kami makan, berderet tiga wartel menggunakan Telkom Pasti. Ada toko serba ada yang mirip IndoMaret atau Alfa Mart. Meskipun tak ber-AC, tetapi susunan interior dan suasananya dibuat mirip toko swalayan. Hebat. Sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMP. Guru-gurunya? Sejak tahun 80an, mereka memperoleh status desa definitif dari pemerintah Kabupaten Manokwari, sehingga mereka berhak mendapatkan jaminan pengadaan sarana pendidikan dan kesehatan dasar. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka membangun kampung ini dari nol. Segala usaha mereka lakukan. Jadi pedagang perantara bagi nelayan setempat menjual ikan dan kepiting ke kedua perusahaan besar itu, hingga penyediaan jasa dan pengadaan berbagai barang konsumtif, seperti antena parabola, penjualan televisi, hingga jasa perbaikan alat-alat elektronik. Darimana mereka memperoleh modal dan barang-barang itu? Surabaya dan Makassar!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kolaborasi warga Kampung Sidomakmur dengan para pedagang keliling asal Sulawesi Selatan menjadi bahan bakar pemajuan permukiman ini. Pedagang asal Sulawesi Selatan, umumnya orang Bugis dan Mandar, tak hanya menyediakan barang, tetapi juga pinjaman uang. Barang pun bisa diperoleh lewat kredit dengan bunga yang sangat ringan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah berminggu-minggu makan ikan dan papeda saja, nasi rawon a la Sidomakmur sungguh lezat luarbiasa. Tak perlu saya bandingkan dengan Nasi Rawon Setan di Surabaya, atau nasi rawon yang enak lainnya. Sidomakmur - jadi makmur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;14 Juli 2007&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-4653134546389110335?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/4653134546389110335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=4653134546389110335' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/4653134546389110335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/4653134546389110335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/07/sidomakmur-kampung-gelandangan-asal.html' title='Sidomakmur, Kampung Gelandangan Asal Surabaya'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/Rpg3plPMHfI/AAAAAAAAADU/wG5Qrj51JGc/s72-c/Babo+Saengga02+003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-3305073384255714849</id><published>2007-07-12T21:45:00.001+07:00</published><updated>2007-07-12T21:53:06.624+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya anggota'/><title type='text'>Refleksi Menjadi Orangtua Tunggal</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="mailto:tatiinoue@yahoo.com"&gt;Tatie Inoue&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjadi orangtua tunggal (&lt;em&gt;single parent&lt;/em&gt;)? Tidak pernah terbayang di benak saya sama sekali selama ini. Setiap orang yang memasuki jenjang perkawinan, pasti ingin kehidupan rumah-tangga dapat bertahan hingga kematian memisahkan. Dan sesulit apapun masalah yang harus dihadapi, apalagi sebagai perempuan, saya selalu berusaha menahan diri demi anak. Ada kalanya sampai mengorbankan harga diri dan perasaan. Dan bersandiwara di depan semua orang, kalau rumah tangga kita baik-baik saja. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai manusia, saya punya batas kesabaran. Kalau hanya perkara suami tidak bisa memberi nafkah, walaupun hingga sepuluh tahun, rasanya saya masih mampu bersabar. Saya senantiasa berusaha menghibur diri. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Mungkin rejeki diberi Tuhan lewat tangan saya." Begitu saya selalu berusaha menyabarkan diri. Sehingga seberapapun yang bisa saya dapatkan, semua saya persembahkan untuk keluarga. Menjadi pencari nafkah, bukan hanya untuk anak dan suami tapi juga membantu keluarga suami. Batas kesabaran saya pun terlampaui ketika saya semakin lama semakin merasa dirongrong dan diporoti. Saya merasa menjadi sapi perah. Saya pun berontak. Dan perkawinan ini cuma sebagai "ajang numpang hidup untuknya dan keluarganya". Sesuatu yang benar-benar terlambat untuk disadari. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa teman dan keluarga saya yang akhirnya tahu sandiwara ini menyebut saya "bodoh". Dan melalui berbagai diskusi, akhirnya saya punya keberanian untuk bercerai. Walaupun saya diteror oleh suami, diancam mau dibunuh dan sebagainya. Dengan di bantu keluarga dan teman-teman, akhirnya proses perceraian dapat dituntaskan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di balik semua kemalangan pada kehidupan berumahtangga ternyata saya masih diberkahi hikmah. Beruntung karena orangtua mendidik saya sejak kecil untuk mandiri. Kemandirian saya secara finansial adalah hikmah dan berkah yang harus saya syukuri. Bahkan semua harta atas nama saya dan hasil keringat sendiri. Sehingga pada waktu proses perceraian, berkat dampingan hukum pengacara dan relasi, saya terlepas dari tuntutan harta gono gini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang saya benar-benar menjadi orangtua tunggal. Sesungguhnya sejak sepuluh tahun yang lalu secara tak resmi saya sudah memainkan peran orangtua tunggal, karena suami pulang pergi seenaknya. Anak masuk rumah sakit, atau ada masalah apapun harus saya yang membereskan. Bahkan ketika suami berurusan dengan aparat hukum saya yang turun tangan menuntaskan karena tidak mau nama baik saya rusak. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kehilangan suami, apalagi yang sudah membuat banyak masalah, sungguh tidak ada rasa kehilangan sama sekali. Meskipun harus diakui ada rasa sedih, kecewa dan sakit hati, tetap saja ada perasaan lega karena bisa membebaskan diri dari sebagian beban. Rasanya diri saya sekarang "benar-benar milik saya sendiri".  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keluarga yang berantakan seperti ini pasti berpengaruh ke anak. Apalagi kalau "cerai tidak dengan baik-baik". Suami dan keluarganya tak kenal lelah menjelek-jelekkan, otomatis si anak agak terpengaruh. Selain anak pasti memiliki rasa kecewa dan sakit hati, seperti halnya saya.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak hanya pengaruh buruk ke anak. Pengaruh buruk pun menimpa orangtua. Mungkin karena saya begitu membenci ayahnya, terkadang si anak menjadi sasaran kemarahan. Saya menyesal bila hal itu terjadi. Demikian pula sebaliknya.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya pernah merasakan dua minggu kehilangan anak, karena anak saya memilih ikut keluarga ayahnya. Dunia rasanya hancur. Saya beruntung karena memiliki banyak sahabat yang selalu mebesarkan hati dan mengingatkan saya untuk tidak larut. Akhirnya anak saya kembali ke pangkuan, karena ternyata keluarga suami tidak menepati janji-janji manis kepadanya. Dan dia tidak bisa hidup seperti yang biasa dia rasakan. Ayahnya tidak akan sanggup membiayai hidupnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya dapat merasakan kekecewaan anak saya. Tetapi saya sering merasa kehabisan akal menghadapi si anak yang kadang jadi temperamental. Jika suasana batin sedang baik, saya bisa menahan diri. Tetapi karena lingkugan kerja saya memang keras, maka kadang saya lepas kendali dengan mengamuk sejadi-jadinya kepada anak. Kebetulan sifat keras kami sama.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ternyata mendidik anak lebih sulit dibandingkan mengatur anak buah di kantor/pabrik. Bahkan hingga saat ini pun saya masih merasa belum bisa mendidik anak dengan benar. Sekali lagi saya beruntung diberkahi Tuhan seorang sahabat, yang kerap menjadi penengah ketegangan antara saya dengan anak saya. Saya bersyukur persoalan rumahtangga tidak terlalu berpengaruh terhadap kegiatan akademiknya. Kenaikan kelas kemarin dia bisa meraih peringkat dua di kelasnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Harus saya akui, sebagai ibu memang saya tidak siap menjadi orangtua tunggal. Saya sedang berusaha belajar sabar dan mudah-mudahan berhasil. Ketegangan antara saya dengan anaik lebih melibatkan ego dibandingkan akal sehat. Seperti halnya saat ini, dimana kami berbeda pendapat, karena anak saya ingin jadi model dengan mengikuti kurus modeling. Padahal saya paling alergi dengan dunia modeling. Saya punya pandangan bahwa dunia modeling sering dipersamakan dengan "jual diri". Saya sungguh tidak dapat memahami isi kepala anak saya. Ketakutan saya lebih karena pengamatan melihat kemilau kehidupan model dan aktris sinetron yang semu, dan yang tak sedikit terkait erat dengan kehidupan malam. Apakah semua anak-baru-gede (ABG) jaman sekarang lebih berorientasi ke cita-cita yang serba praktis dan instan? &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hingga saat ini saya tetap merasa bahwa ada banyak masalah dengan anak saya yang pelan-pelan harus dibereskan. Beruntung saya hanya memiliki satu anak.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mudah-mudahan refleksi ini berguna untuk kawan-kawan sekalian.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-3305073384255714849?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/3305073384255714849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=3305073384255714849' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/3305073384255714849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/3305073384255714849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/07/refleksi-menjadi-orangtua-tunggal.html' title='Refleksi Menjadi Orangtua Tunggal'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-1545821380946841883</id><published>2007-07-12T15:58:00.001+07:00</published><updated>2007-07-12T21:53:53.960+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya anggota'/><title type='text'>Net Nanny, Cyber Patrol, atau Komunikasi Terbuka?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="mailto:ariefw@indo.net.id"&gt;Arief Wicaksono&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Istri saya panik luarbiasa. Saat dia meminjam komputer jinjing milik kedua anak kami untuk mengecek email, karena kebetulan komputer jinjingnya sedang diperbaiki, tak sengaja dia menemukan kata-kata kunci yang terekam pada lubang pencarian Google. Saat itu dia baru akan mengetik kata kunci yang dimulai dengan huruf "S". Seketika di lubang pencarian bermunculan kata-kata kunci yang sebelumnya pernah diisikan, seperti "sexy superhero", "sexy girls", dan "sexy woman". Paniklah dia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika ditelefon dan mendengarkan laporannya dengan nada panik, saya hanya bisa tertawa geli. Saya mundurkan waktu dan teringat pengalaman serupa yang dialami ibu saya saat beliau menemukan majalah Playboy di lemari belajar saya. Tidak jelas juga siapa yang menggunakan rangkaian kata-kata kunci itu. Si sulung atau si bungsu?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Istri saya bingung harus diapakan kedua anak itu. Saya pun bingung ketika menerima telefon tersebut. Dihukum? Ditegur baik-baik? Bagaimana menegurnya? Atau komputer jinjingnya diperlengkapi dengan piranti lunak yang mampu mencegah anak-anak berkunjung ke situs-situs internet khusus orang dewasa? Kalau dulu ibu saya gampang saja tindakannya. Majalah Playboy itu disita. Ketika saya mencari di meja belajar dan tidak menemukannya, yang terlintas di otak, "Wah, ketahuan...."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya minta waktu untuk memikirkannya. Dan saya berjanji akan mengiriminya email. Saya menyarankan untuk sementara komputer jinjing anak-anak ditahan dulu. Segera saya menjelajahi internet, mengunjungi beberapa situs tentang pendidikan seks serta siasat orangtua mencegah anak-anak tidak terlibat &lt;em&gt;cyberpornography&lt;/em&gt;. Wikipedia pun ternyata memiliki halaman khusus tentang hal tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada beberapa pilihan. Namun pada dasarnya pilihan-pilihan yang saya baca dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt; &lt;li&gt;enablement: membuka kesempatan bagi anak-anak untuk mempelajari seks secara lebih terstruktur dan sistematik.&lt;/li&gt; &lt;li&gt;restriction: melakukan pelarangan-pelarangan tertentu, membatasi akses hingga melakukan campur-tangan (intervensi) yang mencegah anak-anak mengunjungi situs-situs erotika dan porno.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Beberapa piranti lunak (&lt;em&gt;software&lt;/em&gt;) gratis ditawarkan untuk dipasang di komputer yang digunakan anak-anak, antara lain Net Nanny, CyberPatrol, K9 Web Protection dan beberapa lainnya. Prinsipnya sama dengan sistem keamanan dan pengamanan saluran internet pada komputer pribadi. Apabila si anak mencoba mengunjungi situs tertentu, yang kata-kata kuncinya sudah lebih dulu disimpan pada piranti lunak tersebut, maka halaman tersebut akan terkunci. Dibutuhkan kata sandi (&lt;em&gt;password&lt;/em&gt;) untuk membukanya. K9 Web Protection tak hanya memblokir akses tetapi juga mengeluarkan suara gonggongan anjing penjaga. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Siasat lain lebih bersandar pada komunikasi. Si anak diajak bicara. Isi pembicaraan bisa bersifat &lt;em&gt;enablement&lt;/em&gt; dan dapat pula berupa &lt;em&gt;restriction&lt;/em&gt;. Tergantung pada tujuan si orangtua dan tingkat pengetahuan si anak. Namun hakekatnya orangtua harus menjelaskan tentang dampak buruk bagi anak-anak yang mengunjungi situs-situs internet untuk orang dewasa. Hal lain yang perlu dijelaskan adalah, bahwa pornografi bukan suatu keadaan sesungguhnya, melainkan salah satu bentuk bisnis di negara-negara industri, yang menjual imaji dan ilusi terkait dengan seksualitas. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Temuan-temuan itu saya salin dan saya kirim via email ke istri saya. Saya sendiri masih bingung sikap dan tindakan seperti apa yang tepat. Toh, kalau dia sudah punya gagasan atau sikap dia pasti akan kontak untuk menyepakati tindakan yang harus diambil terhadap kedua anak kami. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;12 Juli 2007&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-1545821380946841883?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/1545821380946841883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=1545821380946841883' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/1545821380946841883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/1545821380946841883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/07/net-nanny-cyber-patrol-atau-komunikasi.html' title='Net Nanny, Cyber Patrol, atau Komunikasi Terbuka?'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-8257112504651315758</id><published>2007-07-12T12:30:00.001+07:00</published><updated>2007-07-12T21:55:59.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='obrolan'/><title type='text'>Intelijen, Agen Rahasia, Bisnis</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="mailto:ariefw@indon.net.id"&gt;Arief Wicaksono&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hariyadi baru saja selesai membaca buku tentang MOSSAD, badan intelijen Israel, yang ditulis mantan agennya. Hariyadi mengatakan bahwa ada dua jenis agen, agen aktif dan agen pasif. Karena lingkup operasi MOSSAD merambah ke ruang-ruang yang tidak bisa diduga. agen pasif lebih diandalkan. Agen pasif dapat berupa orang-orang yang bekerja di proyek internasional atau perusahaan multinasional yang tanpa sadar menyumbang data dan informasi yang dibutuhkan MOSSAD secara terus menerus. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya tak berkomentar banyak tentang modus operandi seperti itu. Karena modus tersebut berlaku umum. Bahkan di kantor-kantor perwakilan negara asing, seperti kedutaan besar atau konsulat jenderal, selalu ditempatkan agen-agen intelijen. Hal yang sama juga berlaku untuk Indonesia. Menurut Yusi, ayah salah seorang kawannya adalah agen intelijen yang ditempatkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC, Amerika Serikat. Hariyadi juga menambahkan pengalamannya berinteraksi dengan orang-orang intelijen di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada masa lalu memang intelijen adalah alat ampuh untuk mengumpulkan data dan informasi tentang kekuatan lawan, tentu saja untuk tujuan perluasan kuasa wilayah negara bersangkutan. Pada masa sekarang, menurut hemat saya, fungsi intelijen tidak lagi dimonopoli oleh Negara. Intelijen sudah menjadi kebutuhan utama bisnis, apalagi yang mengandalkan modal lintas negara (&lt;em&gt;transnational capital&lt;/em&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tujuannya bisajadi sama: Menguasai wilayah atau teritori seluas-luasnya. Jika pada masa lalu orang bicara tentang kuasa wilayah negara, atau kerap disebut koloni, sehingga gerakan massif tentang hal ini diistilahkan sebagai kolonialisme. Maka pada masa sekarang orang lebih fokus kepada perluasan rentang kendali kuasa wilayah untuk mendapatkan sumberdaya alam berkualitas tinggi dengan harga murah, buruh murah, lahan murah dan mudah diperoleh, dan pada saat yang sama menjadi tempat pelemparan barang olahannya (pasar terpasang atau &lt;em&gt;captive market&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Agaknya peran intelijen tidak lagi bisa diwakili oleh film-film semacam James Bond atau novel-novel picisan masa lalu seperti Nick Carter. Peran intelijen masa kini bisa dibaca pada buku "Confession of the Economic Hitman" oleh John Perkins. Kebetulan saya baru beli buku berjudul "the Business Empire" yang memuat tulisan para mantan "pembunuh bayaran ekonomik" (economic hitmen), dengan kata pengatar yang ditulis John Perkins. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika dulu data dan informasi intelijen ditindaklanjuti dengan tindakan aksi polisional dan militer, maka sekarang tindak polisional dan militer menjadi alat penakluk hanya pada wilayah-wilayah yang memiliki arah kebijakan menutup pintu bagi modal-modal lintas negara, dan mengedepankan kedaulatan diri. Caranya macam-macam, bisa lewat bantuan pelatihan militer, bantuan persenjataan, bantuan jasa konsultansi keamanan negara, dan sebagainya. Mari lihat contoh Afghanistan, Irak, Libya, Venezuela, Equador atau Bolivia. Di negara-negara tersebut operasi intelijen negara dan bisnis begitu erat melekat pada kerja-kerja diplomatik negara-negara industri kaya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;12 Juli 2007&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-8257112504651315758?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/8257112504651315758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=8257112504651315758' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/8257112504651315758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/8257112504651315758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/07/intelijen-agen-rahasia-bisnis.html' title='Intelijen, Agen Rahasia, Bisnis'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7337335017275686680.post-1561940719821012649</id><published>2007-07-12T11:05:00.000+07:00</published><updated>2007-07-12T21:54:54.568+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='redaksi'/><title type='text'>Proyek Menulis Bersama</title><content type='html'>&lt;a href="mailto:ariefw@indo.net.id"&gt;Redaksi Labs83 Menulis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan yang menarik. Bagaimana orang dibuat bergairah berlatih menulis  menggunakan media yang partisipatif, sesungguhnya bukan hal baru. Ada beberapa  blog yang sengaja dirintis untuk memungkinkan beberapa orang berlatih menulis  tanpa beban. Perbincangan ringan yang sangat singkat diantara alumni Labschool  angkatan 83 tentang latihan menulis bersama yang menjadi pemicu gagasan  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa tantangan terbesar menulis terletak pada  diri sendiri. &lt;i&gt;Writing block&lt;/i&gt; atau hambatan mental untuk menulis merupakan  hal yang lumrah. Saya dulu menghadapi hambatan tersebut. Saya punya keinginan  kuat untuk dapat menulis yang memiliki manfaat bagi orang yang membacanya.  Jangankan mulai menulis, saya justru lebih disibukkan menelaah kegunaan-kegunaan  yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang membebani saya adalah kesibukkan  memikirkan mutu tulisan. Saya takut sekali diejek oleh beberapa kawan dekat  karena yang saya tulis hanya hal-hal yang remeh. Kesibukkan  membanding-bandingkan mutu tulisan orang malahan membuat saya tidak juga mulai  menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya justru mulai lepas menulis secara mengalir ketika  &lt;i&gt;mailing list&lt;/i&gt; sedang marak, sekitar awal tahun 1996. Perdebatan lewat  tulisan di mailing list menjadi pemicu dan pemacu semangat untuk terus belajar.  Meskipun harus saya akui seringkali perdebatan-perdebatan di &lt;i&gt;mailing list&lt;/i&gt;  terjebak pada situasi sekedar menang - kalah, tetapi perasaan bebas dan merdeka  untuk mengungkapkan gagasan tumbuh pesat. Jika saya tidak suka dengan mutu dan  jalannya perdebatan-perdebatan yang ada, toh saya tinggal mengabaikan saja, atau  pada kondisi paling ekstrem, saya tinggal berhenti berlangganan  (&lt;i&gt;unsubscribe&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; membuka ruang lebih luas lagi  untuk menulis dengan pikiran yang bebas dan merdeka. Saya tak harus peduli  tentang mutu. Meski agak &lt;i&gt;narcist&lt;/i&gt;, saya merasa saya menulis untuk diri  sendiri. Apa bedanya dengan menulis buku harian? Saya tidak punya kebiasaan  menulis buku harian, sehingga terus-terang tak punya cukup argumen untuk  mengatakan persamaan dan perbedaan antara menulis &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; dengan menulis  buku harian. Sebagian &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; yang saya buat berisi hal-hal yang saya  minati. Mengelola blog bagi saya seperti halnya memiliki koran sendiri. Saya  pemiliknya, penulisnya dan bahkan pembacanya. Bahwa &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; saya dikunjungi  orang, dibaca dan bahkan dikomentari, bagi saya itu tak lebih dari bonus atau  berkah tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman itu, terpikir oleh saya untuk membuat  &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; dimana kawan-kawan alumni Labschool 83 punya arena bersama untuk  berlatih menulis. Semua orang berperan sebagai siswa, dan saat yang sama semua  orang berperan sebagai pelatih, meskipun tidak dalam arti sesungguhnya, karena  yang terpikir oleh saya adalah semacam mekanisme pengecekan dan umpan-balik  silang yang setara (&lt;i&gt;peer review&lt;/i&gt;). &lt;i&gt;Blog&lt;/i&gt; bisa dibuka dengan  pertanyaan sederhana yang akan dijawab menggunakan tulisan. Untuk menggairahkan  semangat, &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; diupayakan untuk tidak menerapkan ketentuan yang ketat  menyangkut teknik penulisan maupun bahasa. Karena tujuan utama adalah membongkar  &lt;i&gt;writing block&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Tertarik?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7337335017275686680-1561940719821012649?l=labs83menulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://labs83menulis.blogspot.com/feeds/1561940719821012649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7337335017275686680&amp;postID=1561940719821012649' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/1561940719821012649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7337335017275686680/posts/default/1561940719821012649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://labs83menulis.blogspot.com/2007/07/proyek-menulis-bersama.html' title='Proyek Menulis Bersama'/><author><name>Awicaksono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vYLJ4rNO4cE/ScXiHlzpCLI/AAAAAAAAAkA/d5Pv6WjjOLc/S220/DSC00728_painted02.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
